Selasa, 31 Maret 2015

Potret Desa Perairan Lokasi PNPM Generasi

Potret Desa Perairan..
Sungsang Banyuasin II Kab. Banyuasin Prov. Sumsel
Berdasarkan cerita leluhur bahwa pada zaman dahulu ada seorang pengembara yang berasal dari pulau Jawa (pulau Jawa Dwiva) dengan tujuan ke pulau Sumatera (pulau Andalas) yaitu ke Palembang sekarang yang bernama Pojang Cinde Kirana untuk mencari nafkah dengan berniaga (berdagang),namun malang tidak dapat ditolak untung tidak dapat diraih perahu yang ditumpanginya terdampar dikuala (muara) sungai musi dan karam sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan berdasarkan bahasa setempat “terdampar” adalah “tersangsang” sehingga istilah inilah dilafalkan dengan nama “Sungsang” dan ada lagi pendapat bahwa ditempat itu bila terjadi pasang air mengalir kehulu atau sehingga terkesan menyungsang. Dari kedua cerita ini maka tempat ini dinamakan Sungsang sampai dengan sekarang.

Masyarakat Sungsang dalam penggunaan bahasa bersifat nasionalisme dengan menggunakan bahasa Indonesia, namun dalam percakapan sehari-hari lebih banyak menggunakan bahasa melayu, Palembang dan Jawa walaupun ada yang menggunakan bahasa-bahasa suku masing-masing dalam sekala kecil.

Adat istiadat yang ada di Sungsang hampir sama dengan Palembang, pertalian adat dalam marga Sungsang ini seadat dengan serasan yang mengurus adat dalam marga adalah Ngabehi (Pasirah) kemudian diatur sampai kemasyarakat sesuai dengan tingkat permasalahannya yaitu untuk yang paling kecil di dalam kampung diurus oleh Kliwon/ pengawa untuk permasalahan adat yang tidak dapat diselesaikan oleh Kliwon / pengawa diselesaikan oleh Proatin / Kerio sedangkan urusan yang bertalian dengan adat diurus oleh Ngbehi / Pasirah. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sungsang masih memakai adat dan tradisi yang telah diatur dalam undang-undang dan peraturan daerah

Masyarakat di Sungsang jarang menginjak tanah, satu-satunya tempat bermain anak-anak hanyalah dijalan beton yang membelah kampung

Kerukunan hidup dan melembaganya adat istiadat tergambarkan dalam partisipasi program PNPM Generasi yang dimulai pada 2014 seperti di Klip Video Karya Oktavianus Faskeu Kab. Banyuasin.

Selasa, 20 Januari 2015

Bekerja Dengan Hati??

                    

Kerja Pemberdayaan belumlah cukup dengan setumpuk Referensi Kerja dari Proyek Program Pemberdayaan. Awalnya aku berpendapat, bahwa Pemberdayaan yang sesungguhnya mungkin hanya terjadi secara informal dilingkungan terdekatnya. Jiwa pemberdaya yang muncul dengan sendirinya, peduli terhadap kesejahteraan masyarakat di lingkungannya. 
Pendapat itu ada benarnya.. karena tidak sedikit Fasilitator Pemberdayaan yang sudah malang melintang di program tapi tidak pernah berkonstribusi dalam memajukan desanya. Tidak sedikit pula Fasilitator Pemberdayaan yang nampak hanya sebagai Supervisor dan memposisikan diri sebagai penentu dari jalannya proyek pada program pemberdayaan yang ditanganinya.
Banyak pernak pernik dan karakteristik siapakah sebenarnya pemberdaya.

Pada tulisan ini saya ingin cerita tentang Hermanto berasal dari Lombok NTB, bertugas sebagai  Fasilitator Kecamatan (FK) pada PNPM Generasi Sehat dan Cerdas di Kecamatan Sungai menang Kabupaten Ogan Komering Ilir Prov. Sumatera Selatan. 

Manakala seorang Fasilitator Pemberdayaan menjalankan profesi,  apapun dan bagaimanapun beratnya lokasi.. tentu harus dijalani. Tak jarang di waktu lalu banyak fasilitator yang menyerah di minggu pertama tugasnya. Tak jarang fasilitator yang akhirnya menangis bahkan kembali ke pangkuan ibunya. 

Menjadi Fasilitator juga perlu keberanian..
Berani taklukan tantangan
Berani taklukan orang yang baru dikenal
Berani taklukan medan dan ancaman yang mungkin datang menghadang
dengan tetap menghargai dan mengoptimalkan kearifan lokal. 

Mengenal Kecamatan Sungai menang bukanlah mudah, karena jangankan warga kabupaten lain, Pejabat di Kabupaten OKIpun mungkin hanya sebagian kecil saja yang sudah mengunjunginya. Salah satu lokasi extrim yang menjadi lokasi PNPM Generasi Tahun 2014. Lokasi ini berbatasan langsung dengan Laut Bangka, sehingga desa-desa tersebar di darat dan perairan.

Video yang dilampirkan diatas, merupakan salah satu tantangan yang bagi pemula menjadi perjalanan yang sangat mendebarkan. 
Memacu Speedboat di parit yang dipenuhi semak belukar dikiri kanan, berpacu dengan buaya yang mungkin melintas karena terusik deru mesin.

Baru aku temukan rasa pengabdian yang sebenarnya
Baru aku merasakan.. betapa tak mudah memfasilitasi masyarakat untuk mengerti
Di sini baru aku mengerti bahwa Kredo Fasilitator dan Nilai-nilai program benar-benar harus diresapi, dipahami dan menjiwai setiap fasilitator.
Tanpa ada pengertian atas nilai-nilai itu.. yang ada hanyalah keluhan
Karena tuntutan proses pemberdayaan selalu saja bersinggungan dengan aturan manajemen keproyekkan. 
Tanpa adanya kesadaran terhadap nilai program  yang ada hanyalah menghitung rugi dan laba. 

Saya berharap semua fasilitator juga tak lupa memberdayakan diri dan keluarganya
Setidaknya ada kewajiban setiap fasilitator yang telah berkeluarga untuk tetap membangun kesejahteraan rumah tangganya, menyisihkan pendapatan diluar biaya hidup dalam bertugas serta menjaga badan tetap sehat dalam hidup di perantauan.





Senin, 19 Januari 2015

PANTI PIJAT SEBAGAI SUMBER BELAJAR

Faktor U yang membuat badanku sakit karena banyak diam.. mengenalkan aku pada sebuah Panti Pijat Tuna Netra di Kota Palembang. Pada awalnya aku ragu karena tak biasa (seumur2 baru kali ini), namun karena rasa sakit di lenganku aku datangi panti itu atas rekomendasi seorang teman. Dan dilayani oleh pemijat bernama Pepen anak seorang transmigran asal Jawa Barat. Dia sudah beristri dan punya anak 1.

Sambil dipijat kami ngobrol banyak untuk mengenalnya. Dia lahir di Sungsang Banyuasin lokasi sangat sulit hingga kini. Dia dikirim ortunya dititip di SLB Kota Palembang dan Pernah disekolahkan ke Cimahi Bandung selama 3 Tahun. Mulai ada rasa takjub, karena di hapal betul daerah Bandung. Bahkan dia hapal betul saat kusebut Desa asalku di Talaga Majalengka serta angkutan umum Buhe Jaya. Banyak cerita hingga 1 jam berlalu tanpa terasa hingga akhirnya jam praktek usai. Alhamdulillah.. badanku esoknya terasa sangat segar.

Selang 2 minggu kemudian aku datang lagi ke panti, namun karena si Pepen lg ngurut dijemput orang terpaksa aku menunggu. Sang Kasir ngomong "" Bapak Klo mau kesini Telpon dulu atau SMS sama Pepen!!
Aku tersentak.. dalam hati bertanya : "Apa mungkin Seorang tuna netra bisa telepon dan Bisa baca SMS"?? Untuk menutupi keherananku.. kukatakan Iya deh." nanti saya datang lagi saja dan telpon sebelumnya.

Setelah mendapat no HPnya aku berlalu pulang. Diperjalanan kusempatkan telpon sebentar si Pepen untuk berkenalan dengan harapan nomorku dicatatnya untuk buat janji. Aku bilang namaku, orang yang dipijat 2 minggu lalu dan sekampung dengan orang tuanya. Syukur dia mengingatnya.. Saya janji minggu depan datang lagi ke panti.

Aku merekomendasikan panti pijat itu ke beberapa teman. Sehingga jika ada teman yang mau pijat aku membantunya untuk booking seperti siang tadi.. Aku heran setiap kali kutelepon walau aku belum berkata.. dia langsung menyapa "Iya Kang.. Bade kadieu?? Aku heran, apakah mungkin setiap no hp pelanggan punya ringtone yang berbeda? Okelah itu kupikirkan nanti.

Nah barulah tadi siang aku tahu.. Sebagai manusia normal yang kadang merasa tak pernah melewatkan teknologi dan punya kemampuan untuk membeli.. Ternyata kemampuanku tidaklah lebih tinggi dari seorang pemijat tuna netra. Karena siang tadi Si Pepen sudah dapat pelanggan, temenku dilayani pemijat lain bernama Usoli yang juga bercerita banyak tentang hidupnya.

Decak kagum tak henti-henti, Inilah hebatnya Usoli:
Dia menjelaskan cara menggunakan Android dan mempraktekan di HP temenku
Dia jelaskan Kenapa dia langsung tahu pada saat di telepon.
Dia juga memberitahu bagaimana cara mengirim SMS atau membaca SMS yang diterima.
Yang lebih terharu lagi Dia mampu menggunakan Komputer.
Yaa Allah.. atas kebesaranMu.. Engkau limpahkan kemampuan lain disela keterbatasan dirinya.

Sepanjang perjalanan pulang, kami bercerita tentang Pepen dan Usoli. Kalopun sekolah ABK dinamai Sekolah Luar Biasa, bukan berarti karena kondisi fisiknya yang tidak biasa. Tapi ternyata mereka benar-benar punya Potensi yang Luar Biasa. Jika memungkinkan suatu saat nanti saya dan temanku bersepakat untuk mengundang Sang Pemijat Tunanetra di Acara Rapat atau Workshop Koordinasi. Banyak hikmah yang kami dapat, sebagai manusia normal yang merasa sempurna, yang merasa lebih mampu mengenal dunia ternyata mereka juga bisa.

Tanpa merasa malu atas kehadiranku di panti pijat ini.. aku tunjukan pula foto yang diambil sahabatku.