Selasa, 08 Agustus 2017
Setahun sekalipun tidak
http://moluccassgsc.blogspot.co.id/2017/08/gsc-ikut-menyukseskan-festival.html#gpluscomments
Rabu, 31 Agustus 2016
Senin, 25 Juli 2016
Selasa, 01 Desember 2015
Selasa, 31 Maret 2015
Potret Desa Perairan Lokasi PNPM Generasi
Potret Desa Perairan..
Sungsang Banyuasin II Kab. Banyuasin Prov. Sumsel
Berdasarkan cerita leluhur bahwa pada zaman dahulu ada seorang pengembara yang berasal dari pulau Jawa (pulau Jawa Dwiva) dengan tujuan ke pulau Sumatera (pulau Andalas) yaitu ke Palembang sekarang yang bernama Pojang Cinde Kirana untuk mencari nafkah dengan berniaga (berdagang),namun malang tidak dapat ditolak untung tidak dapat diraih perahu yang ditumpanginya terdampar dikuala (muara) sungai musi dan karam sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan berdasarkan bahasa setempat “terdampar” adalah “tersangsang” sehingga istilah inilah dilafalkan dengan nama “Sungsang” dan ada lagi pendapat bahwa ditempat itu bila terjadi pasang air mengalir kehulu atau sehingga terkesan menyungsang. Dari kedua cerita ini maka tempat ini dinamakan Sungsang sampai dengan sekarang.
Masyarakat Sungsang dalam penggunaan bahasa bersifat nasionalisme dengan menggunakan bahasa Indonesia, namun dalam percakapan sehari-hari lebih banyak menggunakan bahasa melayu, Palembang dan Jawa walaupun ada yang menggunakan bahasa-bahasa suku masing-masing dalam sekala kecil.
Adat istiadat yang ada di Sungsang hampir sama dengan Palembang, pertalian adat dalam marga Sungsang ini seadat dengan serasan yang mengurus adat dalam marga adalah Ngabehi (Pasirah) kemudian diatur sampai kemasyarakat sesuai dengan tingkat permasalahannya yaitu untuk yang paling kecil di dalam kampung diurus oleh Kliwon/ pengawa untuk permasalahan adat yang tidak dapat diselesaikan oleh Kliwon / pengawa diselesaikan oleh Proatin / Kerio sedangkan urusan yang bertalian dengan adat diurus oleh Ngbehi / Pasirah. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sungsang masih memakai adat dan tradisi yang telah diatur dalam undang-undang dan peraturan daerah
Masyarakat di Sungsang jarang menginjak tanah, satu-satunya tempat bermain anak-anak hanyalah dijalan beton yang membelah kampung
Kerukunan hidup dan melembaganya adat istiadat tergambarkan dalam partisipasi program PNPM Generasi yang dimulai pada 2014 seperti di Klip Video Karya Oktavianus Faskeu Kab. Banyuasin.
Sungsang Banyuasin II Kab. Banyuasin Prov. Sumsel
Berdasarkan cerita leluhur bahwa pada zaman dahulu ada seorang pengembara yang berasal dari pulau Jawa (pulau Jawa Dwiva) dengan tujuan ke pulau Sumatera (pulau Andalas) yaitu ke Palembang sekarang yang bernama Pojang Cinde Kirana untuk mencari nafkah dengan berniaga (berdagang),namun malang tidak dapat ditolak untung tidak dapat diraih perahu yang ditumpanginya terdampar dikuala (muara) sungai musi dan karam sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan berdasarkan bahasa setempat “terdampar” adalah “tersangsang” sehingga istilah inilah dilafalkan dengan nama “Sungsang” dan ada lagi pendapat bahwa ditempat itu bila terjadi pasang air mengalir kehulu atau sehingga terkesan menyungsang. Dari kedua cerita ini maka tempat ini dinamakan Sungsang sampai dengan sekarang.
Masyarakat Sungsang dalam penggunaan bahasa bersifat nasionalisme dengan menggunakan bahasa Indonesia, namun dalam percakapan sehari-hari lebih banyak menggunakan bahasa melayu, Palembang dan Jawa walaupun ada yang menggunakan bahasa-bahasa suku masing-masing dalam sekala kecil.
Adat istiadat yang ada di Sungsang hampir sama dengan Palembang, pertalian adat dalam marga Sungsang ini seadat dengan serasan yang mengurus adat dalam marga adalah Ngabehi (Pasirah) kemudian diatur sampai kemasyarakat sesuai dengan tingkat permasalahannya yaitu untuk yang paling kecil di dalam kampung diurus oleh Kliwon/ pengawa untuk permasalahan adat yang tidak dapat diselesaikan oleh Kliwon / pengawa diselesaikan oleh Proatin / Kerio sedangkan urusan yang bertalian dengan adat diurus oleh Ngbehi / Pasirah. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sungsang masih memakai adat dan tradisi yang telah diatur dalam undang-undang dan peraturan daerah
Masyarakat di Sungsang jarang menginjak tanah, satu-satunya tempat bermain anak-anak hanyalah dijalan beton yang membelah kampung
Kerukunan hidup dan melembaganya adat istiadat tergambarkan dalam partisipasi program PNPM Generasi yang dimulai pada 2014 seperti di Klip Video Karya Oktavianus Faskeu Kab. Banyuasin.
Sabtu, 24 Januari 2015
Selasa, 20 Januari 2015
Bekerja Dengan Hati??
Kerja Pemberdayaan belumlah cukup dengan setumpuk Referensi Kerja dari Proyek Program Pemberdayaan. Awalnya aku berpendapat, bahwa Pemberdayaan yang sesungguhnya mungkin hanya terjadi secara informal dilingkungan terdekatnya. Jiwa pemberdaya yang muncul dengan sendirinya, peduli terhadap kesejahteraan masyarakat di lingkungannya.
Pendapat itu ada benarnya.. karena tidak sedikit Fasilitator Pemberdayaan yang sudah malang melintang di program tapi tidak pernah berkonstribusi dalam memajukan desanya. Tidak sedikit pula Fasilitator Pemberdayaan yang nampak hanya sebagai Supervisor dan memposisikan diri sebagai penentu dari jalannya proyek pada program pemberdayaan yang ditanganinya.
Banyak pernak pernik dan karakteristik siapakah sebenarnya pemberdaya.
Pada tulisan ini saya ingin cerita tentang Hermanto berasal dari Lombok NTB, bertugas sebagai Fasilitator Kecamatan (FK) pada PNPM Generasi Sehat dan Cerdas di Kecamatan Sungai menang Kabupaten Ogan Komering Ilir Prov. Sumatera Selatan.
Manakala seorang Fasilitator Pemberdayaan menjalankan profesi, apapun dan bagaimanapun beratnya lokasi.. tentu harus dijalani. Tak jarang di waktu lalu banyak fasilitator yang menyerah di minggu pertama tugasnya. Tak jarang fasilitator yang akhirnya menangis bahkan kembali ke pangkuan ibunya.
Menjadi Fasilitator juga perlu keberanian..
Berani taklukan tantangan
Berani taklukan orang yang baru dikenal
Berani taklukan medan dan ancaman yang mungkin datang menghadang
dengan tetap menghargai dan mengoptimalkan kearifan lokal.
Mengenal Kecamatan Sungai menang bukanlah mudah, karena jangankan warga kabupaten lain, Pejabat di Kabupaten OKIpun mungkin hanya sebagian kecil saja yang sudah mengunjunginya. Salah satu lokasi extrim yang menjadi lokasi PNPM Generasi Tahun 2014. Lokasi ini berbatasan langsung dengan Laut Bangka, sehingga desa-desa tersebar di darat dan perairan.
Video yang dilampirkan diatas, merupakan salah satu tantangan yang bagi pemula menjadi perjalanan yang sangat mendebarkan.
Memacu Speedboat di parit yang dipenuhi semak belukar dikiri kanan, berpacu dengan buaya yang mungkin melintas karena terusik deru mesin.
Baru aku temukan rasa pengabdian yang sebenarnya
Baru aku merasakan.. betapa tak mudah memfasilitasi masyarakat untuk mengerti
Di sini baru aku mengerti bahwa Kredo Fasilitator dan Nilai-nilai program benar-benar harus diresapi, dipahami dan menjiwai setiap fasilitator.
Tanpa ada pengertian atas nilai-nilai itu.. yang ada hanyalah keluhan
Karena tuntutan proses pemberdayaan selalu saja bersinggungan dengan aturan manajemen keproyekkan.
Tanpa adanya kesadaran terhadap nilai program yang ada hanyalah menghitung rugi dan laba.
Saya berharap semua fasilitator juga tak lupa memberdayakan diri dan keluarganya
Setidaknya ada kewajiban setiap fasilitator yang telah berkeluarga untuk tetap membangun kesejahteraan rumah tangganya, menyisihkan pendapatan diluar biaya hidup dalam bertugas serta menjaga badan tetap sehat dalam hidup di perantauan.
Senin, 19 Januari 2015
PANTI PIJAT SEBAGAI SUMBER BELAJAR
Faktor U yang membuat badanku sakit karena banyak diam.. mengenalkan aku pada sebuah Panti Pijat Tuna Netra di Kota Palembang. Pada awalnya aku ragu karena tak biasa (seumur2 baru kali ini), namun karena rasa sakit di lenganku aku datangi panti itu atas rekomendasi seorang teman. Dan dilayani oleh pemijat bernama Pepen anak seorang transmigran asal Jawa Barat. Dia sudah beristri dan punya anak 1.
Sambil dipijat kami ngobrol banyak untuk mengenalnya. Dia lahir di Sungsang Banyuasin lokasi sangat sulit hingga kini. Dia dikirim ortunya dititip di SLB Kota Palembang dan Pernah disekolahkan ke Cimahi Bandung selama 3 Tahun. Mulai ada rasa takjub, karena di hapal betul daerah Bandung. Bahkan dia hapal betul saat kusebut Desa asalku di Talaga Majalengka serta angkutan umum Buhe Jaya. Banyak cerita hingga 1 jam berlalu tanpa terasa hingga akhirnya jam praktek usai. Alhamdulillah.. badanku esoknya terasa sangat segar.
Selang 2 minggu kemudian aku datang lagi ke panti, namun karena si Pepen lg ngurut dijemput orang terpaksa aku menunggu. Sang Kasir ngomong "" Bapak Klo mau kesini Telpon dulu atau SMS sama Pepen!!
Aku tersentak.. dalam hati bertanya : "Apa mungkin Seorang tuna netra bisa telepon dan Bisa baca SMS"?? Untuk menutupi keherananku.. kukatakan Iya deh." nanti saya datang lagi saja dan telpon sebelumnya.
Setelah mendapat no HPnya aku berlalu pulang. Diperjalanan kusempatkan telpon sebentar si Pepen untuk berkenalan dengan harapan nomorku dicatatnya untuk buat janji. Aku bilang namaku, orang yang dipijat 2 minggu lalu dan sekampung dengan orang tuanya. Syukur dia mengingatnya.. Saya janji minggu depan datang lagi ke panti.
Aku merekomendasikan panti pijat itu ke beberapa teman. Sehingga jika ada teman yang mau pijat aku membantunya untuk booking seperti siang tadi.. Aku heran setiap kali kutelepon walau aku belum berkata.. dia langsung menyapa "Iya Kang.. Bade kadieu?? Aku heran, apakah mungkin setiap no hp pelanggan punya ringtone yang berbeda? Okelah itu kupikirkan nanti.
Nah barulah tadi siang aku tahu.. Sebagai manusia normal yang kadang merasa tak pernah melewatkan teknologi dan punya kemampuan untuk membeli.. Ternyata kemampuanku tidaklah lebih tinggi dari seorang pemijat tuna netra. Karena siang tadi Si Pepen sudah dapat pelanggan, temenku dilayani pemijat lain bernama Usoli yang juga bercerita banyak tentang hidupnya.
Decak kagum tak henti-henti, Inilah hebatnya Usoli:
Dia menjelaskan cara menggunakan Android dan mempraktekan di HP temenku
Dia jelaskan Kenapa dia langsung tahu pada saat di telepon.
Dia juga memberitahu bagaimana cara mengirim SMS atau membaca SMS yang diterima.
Yang lebih terharu lagi Dia mampu menggunakan Komputer.
Yaa Allah.. atas kebesaranMu.. Engkau limpahkan kemampuan lain disela keterbatasan dirinya.
Sepanjang perjalanan pulang, kami bercerita tentang Pepen dan Usoli. Kalopun sekolah ABK dinamai Sekolah Luar Biasa, bukan berarti karena kondisi fisiknya yang tidak biasa. Tapi ternyata mereka benar-benar punya Potensi yang Luar Biasa. Jika memungkinkan suatu saat nanti saya dan temanku bersepakat untuk mengundang Sang Pemijat Tunanetra di Acara Rapat atau Workshop Koordinasi. Banyak hikmah yang kami dapat, sebagai manusia normal yang merasa sempurna, yang merasa lebih mampu mengenal dunia ternyata mereka juga bisa.
Tanpa merasa malu atas kehadiranku di panti pijat ini.. aku tunjukan pula foto yang diambil sahabatku.
Faktor U yang membuat badanku sakit karena banyak diam.. mengenalkan aku pada sebuah Panti Pijat Tuna Netra di Kota Palembang. Pada awalnya aku ragu karena tak biasa (seumur2 baru kali ini), namun karena rasa sakit di lenganku aku datangi panti itu atas rekomendasi seorang teman. Dan dilayani oleh pemijat bernama Pepen anak seorang transmigran asal Jawa Barat. Dia sudah beristri dan punya anak 1.
Sambil dipijat kami ngobrol banyak untuk mengenalnya. Dia lahir di Sungsang Banyuasin lokasi sangat sulit hingga kini. Dia dikirim ortunya dititip di SLB Kota Palembang dan Pernah disekolahkan ke Cimahi Bandung selama 3 Tahun. Mulai ada rasa takjub, karena di hapal betul daerah Bandung. Bahkan dia hapal betul saat kusebut Desa asalku di Talaga Majalengka serta angkutan umum Buhe Jaya. Banyak cerita hingga 1 jam berlalu tanpa terasa hingga akhirnya jam praktek usai. Alhamdulillah.. badanku esoknya terasa sangat segar.
Selang 2 minggu kemudian aku datang lagi ke panti, namun karena si Pepen lg ngurut dijemput orang terpaksa aku menunggu. Sang Kasir ngomong "" Bapak Klo mau kesini Telpon dulu atau SMS sama Pepen!!
Aku tersentak.. dalam hati bertanya : "Apa mungkin Seorang tuna netra bisa telepon dan Bisa baca SMS"?? Untuk menutupi keherananku.. kukatakan Iya deh." nanti saya datang lagi saja dan telpon sebelumnya.
Setelah mendapat no HPnya aku berlalu pulang. Diperjalanan kusempatkan telpon sebentar si Pepen untuk berkenalan dengan harapan nomorku dicatatnya untuk buat janji. Aku bilang namaku, orang yang dipijat 2 minggu lalu dan sekampung dengan orang tuanya. Syukur dia mengingatnya.. Saya janji minggu depan datang lagi ke panti.
Aku merekomendasikan panti pijat itu ke beberapa teman. Sehingga jika ada teman yang mau pijat aku membantunya untuk booking seperti siang tadi.. Aku heran setiap kali kutelepon walau aku belum berkata.. dia langsung menyapa "Iya Kang.. Bade kadieu?? Aku heran, apakah mungkin setiap no hp pelanggan punya ringtone yang berbeda? Okelah itu kupikirkan nanti.
Nah barulah tadi siang aku tahu.. Sebagai manusia normal yang kadang merasa tak pernah melewatkan teknologi dan punya kemampuan untuk membeli.. Ternyata kemampuanku tidaklah lebih tinggi dari seorang pemijat tuna netra. Karena siang tadi Si Pepen sudah dapat pelanggan, temenku dilayani pemijat lain bernama Usoli yang juga bercerita banyak tentang hidupnya.
Decak kagum tak henti-henti, Inilah hebatnya Usoli:
Dia menjelaskan cara menggunakan Android dan mempraktekan di HP temenku
Dia jelaskan Kenapa dia langsung tahu pada saat di telepon.
Dia juga memberitahu bagaimana cara mengirim SMS atau membaca SMS yang diterima.
Yang lebih terharu lagi Dia mampu menggunakan Komputer.
Yaa Allah.. atas kebesaranMu.. Engkau limpahkan kemampuan lain disela keterbatasan dirinya.
Sepanjang perjalanan pulang, kami bercerita tentang Pepen dan Usoli. Kalopun sekolah ABK dinamai Sekolah Luar Biasa, bukan berarti karena kondisi fisiknya yang tidak biasa. Tapi ternyata mereka benar-benar punya Potensi yang Luar Biasa. Jika memungkinkan suatu saat nanti saya dan temanku bersepakat untuk mengundang Sang Pemijat Tunanetra di Acara Rapat atau Workshop Koordinasi. Banyak hikmah yang kami dapat, sebagai manusia normal yang merasa sempurna, yang merasa lebih mampu mengenal dunia ternyata mereka juga bisa.
Tanpa merasa malu atas kehadiranku di panti pijat ini.. aku tunjukan pula foto yang diambil sahabatku.
Sabtu, 06 September 2014
“Semangat menggapai cita-cita”
Semilir angin pagi sapa insan pemetik teh di detak nadi pegunungan Kecamatan Gununghalu yang berlokasi di ujung
Kabupaten Bandung Barat. Pemandangan nan cantik dan piawai di sepanjang jalan
dengan warna hijau yang mendominasi, sejukan asa dan rasa yang membuat mata
terasa segar menggelegar. Gemericik air mengalir di sela-sela pepohonan
menuruni lembah yang terusik.
Perjalanan menuju Desa Tamanjaya tidak lah
mudah, jalan berkelok, berbatu dan longsoran di sisi jalan harus membuat ekstra
hati-hati. Detik demi detik membuat jantung berdetak berpacu dengan keinginan
tuk tahu arti peduli, pemandangan yang indah dan perawan, membuat semangat menggebu untuk sampai di ujung
sebuah dusun nan jauh di upuk mata.
Di sebuah halaman rumah panggung, seorang gadis kecil berambut panjang sedang
bermain dengan teman-temannya penuh gelak tawa. Tampak dari jauh tidak ada yang
berbeda diantara mereka, seolah berbaur tanpa ada kesan malu. Tatkala kami
mengucapkan salam, terlihat Meti Siswa SD Sodong I Desa Tamanjaya menolehkan
wajahnya. Terenyuh hati ini melhat kondisinya, dengan adanya benjolan diatas
hidung diantara kedua matanya yang sayu. Semakin banyak pertanyaan yang
berkecamuk dalam hati kami untuk lebih banyak mengetahui kondisinya. Sungguh
paparan nyata yang betul-betul kagetkan hati dan nurani, dialog pun mengalir
dengan sendirinya. Betapa miris hati kami, mendengar uraian cerita ibunda Meti
yang selama ini melihat dan merasakan derita anaknya tercinta. Betapa sulit dan
riskan kepengurusan Jamkesmas, seolah keadilan tidak pernah berpihak dan
menyatu dalam raga miskin yang mereka miliki. Tapi mereka tetap optimis walau raga
miskin tapi hati haruslah tetap kaya. Senantiasa Do’a selalu tercurah tuk
kebaikan nurani ananda, belahan hati, curahan raga kan selalu tertuju.
Ketika kami ceritakan PNPM Generasi Sehat dan
Cerdas, nampak ibunda Meti terperangah terlihat secercah asa dan senyum
terkembang di wajahnya. Sungguh pemandangan yang membuat hati terenyuh, seolah
bahagia itu akan jemput dan bawa berkah ananda. Terisak penuh dengan air mata
berkaca, hanya mampu ucapkan “ hatur nuhun kana kasaeanna” karena ibunda meti
ternyata tidak paham baca tulis dan bahasa Indonesia tidak begitu dikuasai.
Perjalanan tadi hanyalah salah satu kegiatan
yang kami lakukan untuk melihat secara langsung kondisi Meti. Dan kamipun
bertekad untuk menyeka air mata ibunda meti dan memberikan senyum terindah di
sudut bibir mereka, tuk gapai semua asa yang tiada bertepi.
Akhirnya kamipun flash back ke belakang kisah
yang mengharukan, Berawal dari adanya hasil Musyawarah dusun & DTKP di
Dusun , muncul permasalahan yang diutarakan oleh seorang Guru bahwa ada
anak-anak yang kurang maksimal dalam proses belajar mengajar di kelas. Hal ini
di sebabkan daya penglihatan dari anak tersebut yang terganggu sehingga harus
selalu duduk di depan dan inipun mengganggu terhadap nilai mereka bahkan
kehadirannya. Berdasarkan proses perencanaan & pembuatan RAB, maka
teranggarkan dana Pengadaan kacamata untuk 5 orang anak pemanfaat.
Ketika dana akan dicairkan, dilakukan
pemeriksaan terkait kondisi kesehatan mata dari pemanfaat, termasuk Meti.
Berdasarkan hasil pemeriksaan untuk Meti , disarankan untuk melakukan
pengobatan karena kondisi mata terganggu oleh adanya benjolan di antara ke dua
matanya. Yang lebih memilukan adalah sempat adanya penolakan / rasa trauma dari
orangtua Meti, 2 tahun yang lalu ada yang coba memfasilitasi pengobatan. Tetapi
ternyata ketika uang dari hasil meminjam sebesar Rp 2.500.000,00 dikeluarkan,
pengobatan tidak kunjung di dapat malah ditelantarkan di Rumah Sakit selama 10
hari bahkan untuk pulang pun mereka mengandalkan uluran tangan orang lain yang
peduli.
Bersyukur masih ada rasa peduli dari KPMD
& PK Desa Tamanjaya yang senantiasa melakukan konsultasi mengenai
penanganan kasus tersebut. Kami yang pada saat itu masih melakukan pendampingan
IST KPMD, merasa tergugah dan berdiskusi
dengan UPK , FK & pelaku desa. Sungguh rasa kami tergugah, seolah ada
gejolak motivasi yang hinggap dalam dada, inilah yang harus kita bantu. Mungkin
dengan keterbatasan yang kami miliki, setidaknya dapat meringankan beban yang
selama ini harus di tanggung, miris hati ini melihat photo dan mendengar alur
cerita yang disampaikan. Deritamu, adalah derita kami karena asa akan terjawab
bila sentuhan tangan dan uluran keajaiban kan selalu hinggap dalam raga-raga
yang mau berusaha. Semangat dan selalu optimis selalu dikedepankan karena pada
ujungnya kan indah pada akhirnya.
Maka dilakukan lah langkah sebagai berikut :
1. Desa melakukan kegiatan musyawarah untuk
merevisi kegiatan guna penanganan fasilitasi pengobatan Meti.
2. Tanggal
8 April 2013 dilakukan kunjungan langsung ke rumah orag tua Meti, untuk
mengetahui permasalahan & kondisi terakhir. Dari hasil pembicaraan dengan
orang tuanya. Benjolan tersebut semakin membesar 2 tahun terakhir. Mata sering
sakit/merasa tegang/ sulit dibuka ketika bangun tidur, menyebabkan dalam satu bulan ada beberapa hari sering
tidak masuk sekolah
3. Memfasilitasi agar pengobatan bisa menggunakan
Jamkesmas dengan memfasilitasi pengurusan Jamkesmas.
4. Tanggal 9 April 2013 dilakukan pemeriksaan
awal di Puskesmas agar mendapatkan Surat Rujukan, hasil pemeriksaan di Puskesmas Meti
harus segera di rujuk ke Rumah Sakit
Hasan Sadikin (RSHS) dengan diagnosa Tumor.
5. Tanggal 11 April 2013, kamipun memfasilitasi transportasi
& akomodasi ke RSHS . Tetapi Jamkesmas ditolak karena data di Kartu
Jamkesmas, Database , Kartu Keluarga & KTP tidak sinkron. (transportasi
& akomodasi menggunakan dana talangan dulu karena dana PNPM GSC belum
dicairkan termasuk biaya pengobatan awal). Ketika sampai di RSHS harus mendapat
rujukan dulu dari RS Cibabat, maka dilakukan pemeriksaan di Poli Bedah RS
Cibabat dengan diagnosa Menlingoule. Kemudain siang hari dilanjutkan
pemeriksaan di Poli Bedah Plastik RSHS, dan harus melakukan pemeriksaan ulang
besok paginya jam 07.00. Dikarenakan tidak adanya rawat inap di RSHS, maka
Meti, orangtuanya dan pengantar menginap di lorong RSHS , daripada harus pulang
ke Gununghalu dengan jarak tempuh 3,5 jam.
6. Tanggal 12 April 2013, dilakukan pemeriksaan
kembali oleh tenaga Dokter ahli (4 Dokter Asing & 4 Dokter lokal), hasilnya
harus dilakukan operasi dengan diagnosa Kebocoran Tulang Hidung sehingga cairan
otak masuk ke sekitar hidung. Sebelum operasi harus dilakukan pemeriksaan
Rontgen Kepala, CT Scan dan Pemeriksaan Darah juga konsultasi dengan Dokter
Syaraf. Dikarenakan biaya CT Scan & Pemeriksaan darah yang cukup mahal maka
kami tunda , sambil menunggu perbaikan kelengkapan data Jamkesmas. Tetapi untuk
Rontgen Kepala menggunakan jalur umum karena bisa dilakukan hari itu juga.
Ternyata perlu kesabaran dan keuletan jika menggunakan dana jalur Jamkesmas,
karena untuk CT Scan menggunakan Jamkesmas harus menunggu jadwal dari RSHS,
Surat Verifikasi dari Dokter & hasil Rontgen Kepala.
7. Proses selanjutnya saat ini adalah perbaikan
kelengkapan data Jamkesmas dan menunggu jadwal CT Scan & pemeriksaan darah
(harus puasa semalam) di RSHS.
Tak terlihat wajah lelah di wajah Meti dari
mulai pemeriksaan di Puskesmas sampai pada saat Rontgen Kepala di RSHS. Harapan
untuk menggapai cita-cita melanjutkan sekolah ke SMP membuatnya semangat
mengikuti pengobatan yang dilakukan. Sungguh semangat luar biasa yang harus
kita jaga agar asa senantiasa berpihak, bersama kaki mungil yang senantiasa
tapaki jalan dengan hembusan napas dan semangat untuk selalu rengkuh bahagia
bersama bintang di langit. Bahkan hampir setiap hari Meti dan orangtuanya terus
bertanya kapan bisa di operasi.
Bersama PNPM GSC harapan dari seorang gadis cilik bernama Meti yang
kami plesetkan ‘Menggapai Esok Terlihat lebih Indah’ semoga terwujud dan Allah SWT memberi kelancaran, kemudahan &
kesembuhan bagi Meti..........................
Ditulis oleh : Tim Fasilitator PNPM GSC Bandung Barat
Melly Melanjaya, Dewi
Sulamdari & Siti Habibah
Langganan:
Postingan (Atom)
